Minggu, 25 November 2012

Belajar Bermakna



A.    BELAJAR MENURUT AUSUBEL

Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi peajaran yang disajikan pada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Struktur kognitif itu adalah fakta, konsep, dan generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat diberikan kepada siswa dalam bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa menemukan sendiri sebagian atau seluruh konsep yang akan diajarkan. Akan tetapi, siswa itu dapat juga hanya mencoba-coba menghafalkan informasi baru tanpa mengaitakan dengan konsep lainya yakni dengan metode hafalan.
Ausubel menyatakan bahwa banyak ahli pendidikan menyamakan belajar penerimaan dengan belajar hafalan sebab mereka berpendapat bahwa belajar bermakna haya terjadi jika mereka menemuka sendiri pengetahuan. Namun, disini Ausubel menjelaskan bahwa belajar bermakna itu menjelaskan hubungan antara konsep-konsep. Sedangkan belaar hafalan itu seperti memecahkan masalah dengan coba-coba, seperti menebak teka-teki. Belajar penemuan yang bermakna terjadi pada penelitian bersifat ilmiah.

1.      Belajar Bermakna
Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Peristiwa belajar bermakna menyangkut asimilasi informasi baru pada pengetahuan yang telah ada dalam struktur kognitif seseorang. Jadi, dalam belajar bermakna, informasi baru diasimilasikan pada konsep-konsep yang telah diketahui atau dipahami terlebih dahulu dalam struktur kognitif.
Belajar bermakna yang beru mengakibatkan pertumbuhan dan modifikasi konsep-konsep awal yang telah diketahui sebelumnya. Bergantung pada sejarah pengalaman seseorang, konsep-konsep itu dapat relatif besar dan berkembang seperti konsep-konsep lainnya. Mungkin saja konsepnya menjadi sangat luas atau malah menjadi sempit.
Pada anak-anak pembentukkan konsep merupakan proses utama utama untuk memperoleh konsep-konsep. Telah kita ketahui bahwa pembentukkan konsep adalah semacam belajar penemuan yang menyangkut baik pembentukkan hipotesis dan pengujian hipotesis maupn pembentukkan generalisasi hal-al yang khusus. Waktu usia masuk sekolah tiba, kebanyakan anak telah mempunyai kerangka kosep yag mengizinkan terjadinya belaar bermakna.
2.      Belajar Bermakna
Bila dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep relevan atau konsep-konsep awal yang tidak relevan, informasi baru dipelaari secara hafalan. Bila tidak ada usaha yang dilakukan untuk mengasimilasika pegetahuan baru pada konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi hafalan.
Pada kenyataanya, guru dan bahan-bahan pelajaran sangat jarang menolong siswa dalam menentukan dan menggunakan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif mereka untuk mengasimilasikan pengetahuan baru, dan akibatnya pada para siswa hanya teradi belajar hafalan. Lagipula sistem evaluasi di sekolah menghendaki hafalan. Jadi timbul pikiran siswa untuk apa bersusah payah mengaitkan konsep yang ada kepada pengetahuan baru seperti belajar bermakna? Kerap kali siswa-siswa hanya mengetahui saja apa yang ditanyakan dengan tidak mengerti tentang apa yang mereka bicarakan.
3.      Subsumsi-subsumsi Obileratif
Selama belajar bermakna berlangsung, informasi baru terkait pada konsep-konse dalam struktur kogniif. Untuk menekankan pada fenomena pegaitan ini, Ausubel mengemukakan istilah subsumer. Subsumer memegang peranan dalam proses perolehan informasi baru. Dalam belajar bermakna, subsumer mempunyai peranan interaktif, memperlancar gerakan informasi yang relevan melalui penghalang-penghalang perseptual dan menyediakan suatu kaitan antara informasi yang beru diterima dan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Proses interakti antara materi yang beru dipelajari dengan subsumer-subsumer inilah yang menjadi inti teori belajar asimilasi Ausubel. Proses ini disebut subsumsi.
Selama belajar bermakna., subsumer mengalami modifikasi dan terdeferensiasi lebih lanjut. Diferensiasi subsumer diakibatkan oleh asimilasi pengetahuan baru selama belajar bermakna berlangsung. Informasi yang dipelajari secara bermakna biasanya lebih lama diingat daripada informasi yang dipelajari secara hafalan, tetapi adakalanya unsur-unsur yang terabsumsi tidak dapat lagi dikeluarkan dari memori, jadi sudah dilupakan. Menurut Ausubel, terjadi subsumsi obileratif (subsumsi yang telah rusak). Ini tidak berarti bahwa subsumer yang tinggal telah kembli pada keadaan sebelum terjadi proses subsumsi. Jadi walaupun kelihatannya ada suatu unsur subordinat yang hilang, subsumer telah diubah oleh pengalaman belajar bermakna sebelumnya.
Menurut Ausubel dan juga Novak, ada tiga kebaikan dari belajar bermakna:
a.       Informasi yang dipelajri secara bermakna lebih lama dapat diingat;
b.      Informasi yang telah tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari subsumer-subsumer, jadi memudahkan proses belajar beerikutnya untuk materi pelajaran yang mirip;
c.       Informasi yng dilupakan sesudah subsumsi obileratif meninggalkan efek residual pada subsumer sehingga mempermudah belajar hl-hal yang mirip, walaupun telah terjadi ‘lupa’.

4.      Variabel yang Mempengaruhi Belajar Penerimaan Bermakna
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna Ausubel ialah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul saat informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu, demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, jelas, dan diatur dengan baik, arti-arti yang sahih dan jelas akan timbul. Jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, struktur kognitif itu malah menghambat belajar.
Prasyarat-prasyarat belajar bermakna:
a.       Materi yang dipelajari harus bermakna secara potensial.
b.      Anak yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna, jadi mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna.
Kebermaknaan materi pelajran secara potensial bergantung pada:
a.       Materi itu harus memiliki kebermaknaan logis.
b.      Gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
B.     MENERAPKAN TEORI AUSUBEL DALAM MENGAJAR

1.      Pengatur Awal
Pengatur awal mengarahkan para siswa ke materi yang akan mereka pelajari dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan baru.
2.      Diferensiasi Progresif
Proses penyusunan konsep dengan cara mengajarkan konsep yang paling inklusif, kemudian konsep kurang inklusif, dan terakhir adalah hal-hal yang paling khusus.
Menentukan pengetahuan yang termasuk konsep yang paling umum, paling inklusif, dan konsep-konsep subordinat dalam suatu kumpulan yang merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Menurut Novak, unutk menyusun kurikulum yang baik, mula-mula diperlukan analisis konsep dalam suatu bidang studi, kemudian diperhatikan hubungan-hubungan tertentu antara konsep-konsep ini sehingga dapat diketahui konsep yang paling umum dan superordinat dan konsep yang lebih khusus subordinat. Salah satu sebab mengapa pengajaran di sekolah menjadi tidak efektif ialah karena para pengembang kurikulum jarang sekali memilih konsep-konsep yang akna diajarkan dan lebih lagi jarang sekali mencoba mencari hubungan hierarkis yang mungkin ada di antara konsep-konsep itu. Fungsi pertama sekolah itu ialah belajar konsep. Oleh karena itu, kita harus memilih dari sekian banyak pengetahuan itu konsep utama dan konsep subordinat yang ingin kita ajarkan pada para siswa.



3.      Belajar Subordinat
Belajar subordinat tejadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Bila konsep-konsep yang telah dipelajri sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur suatu konsep yang lebih luas, lebih inklusif. Hal yang sama terjadi bila anak belajar bahwa pluto, saturnus, venus, adalah planet, setelah mereka belajar bahwa pluto merupakan bintang.
4.      Penyesuaian Integratif
Untuk mencapai penyesuaian integratif, materi pelajaran hendaknya disusun demikan rupa hingga kita menggerakkan hierarki-ierarki konseptual ‘ ke atas dan ke bawah’ selama informasi disajikan. Kita dapa mulai dengan konsep- konsep yang paling umum, tetapi kita perlu memperlihatkan bagaimana terkaitnya konsep-konsep subordinat, kemudian bergerak kembali melalui contoh-contoh ke arti-arti baru bagi konsep yang tingkatnya lebih tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar