Minggu, 25 November 2012

Buku Teks Berbasis Intelektual dan Model Representasi Teks



2.1       Pengertian Buku Teks Berbasis Intelektual
            Intelektual adalah cerdas, berpikir, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan serta mempunyai kecerdasan tinggi dan cendikiawan. Intelektual juga merupakan totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yg menyangkut pemikiran dan pemahaman. Secara bahasa, intelektual adalah “cendekiawan”, dilihat lebih kata intelektual dapat diartikan arif dalam bahasa Indonesia. Kata arif itu berarti cerdik pandai , bijaksana, berilmu. Dalam bahasa arab intelektual adalah orang yang berakal, orang yang mengetahui, berbudaya, akal pikiran. Intelektual menurut istilah adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri kepada pengembangan gagasan orisinal dan dalam usaha-usaha intelektual kreatif.
Berkaitan dengan buku teks, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa buku teks adalah sarana belajar yang biasa digunakan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran. Buku teks itu selalu berkaitan dengan bidang studi. Contohnya, buku teks mengenai matematika, biologi, fisika, dan lain-lain. Sedangkan, intelektual artinya adalah cerdas dan berpikir berdasarkan ilmu pengetahuan. Jadi dapat disimpulkan, buku teks berbasis intelektual adalah buku yang dirancang untuk penggunaan dikelas, disusun dan disiapkan dengan cermat dan cerdas oleh para pakar atau ahli dalam bidang itu, mudah dipahami sesuai dengan gradasi-gradasi tertentu, dan diperlengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi. Sesuai dan serasi disini artinya buku teks itu disusun dengan cara yang dapat memenuhi keperluan belajar tersebut. Maksudnya adalah isinya benar dari segi keilmuan, disusun secara sistematis, mengandung informasi yang kaya dan relevan, terdapat kesinambungan, kesaksamaan, keteraturan, serta keseimbangan.



2.2       Ciri – Ciri Buku Teks Berbasis Intelektual
Buku memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat modern, terutama dalam bidang pendidikan. Banyak hal yang dapat dipelajari dari buku. Bahkan dapat dikatakan hampir semua segi kehidupan manusia direkam di dalam buku.
Bagi seorang pelajar atau mahasiswa salah satu buku yang sangat diperlukan ialah buku teks. Dengan adanya buku teks dapat menunjang kegiatan belajar mengajar dalam mata pelajaran tertentu. Semakin baik kualitas buku teks, maka semakin sempurna pengajaran mata pelajaran yang ditunjangnya. Buku teks yang baik adalah buku teks yang cocok dan sesuai dengan tuntutan suatu kelas. Beberapa ciri buku teks berbasis intelektual diantaranya:
a.       Aspek isi materi pelajaran
Materi pelajaran merupakan bahan pelajaran yang disajikan dalam buku teks ataupun buku pelajaran. Buku teks yang baik memperhatikan relevansi, adekuasi, keakuratan, dalam proporsionalitas dalam penyajian materinya.
·         Relevansi
Relevansi artinya buku teks berbasis intelektual itu memuat materi yang relevan dengan tuntutan kurikulum yang berlaku, relevan dengan kompetensi yang dimiliki oleh lulusan tingkat pendidikan tertentu, serta relevan dengan tingkat perkembangan dan karakteristik siswa yang akan menggunakan buku teks tersebut.
·         Adekuasi
Adekuasi berarti kecukupan. Kecukupan disini mengandung arti bahwa buku tersebut memuat materi yang memadai, menyajikan materi yang kaya atau subject matter yang kaya, bervariasi, mudah dibaca dan dipahami serta sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Buku teks berbasis intelektual juga berisi materi yang mendalam sehingga membatu siswa dalam memecahkan masalah-masalah akademis yang dihadapinya. Misalnya pada saat siswa mengerjakan tugas atau latihan, kedalaman pengejaan atau pemecahan masalah terakomodasi oleh buku, baik disebabkan buku itu memuat hal yang dipelukan siswa atau adanya petunjuk untuk mendapat rujukan-rujukan yang memungkinkan masalah itu terpecahkan.
·         Akurat
Keakuratan mengandung arti bahwa isi materi yang disajikan dalam buku benar-benar disusun secara keilmuan, mutakhir, bermanfaat bagi kehidupan dan pengemasan materi sesuai dengan hakekat pengetahuan.
·         Proporsinalitas
Proporsioalitas berarti uraian materi buku memenuhi keseimbangan, kelengkapan, kedalaman dan keseimbangan antara materi pokok dengan materi pendukung, serta dilengkapi dengan evaluasi yang memungkinkan siswa ampu mengetahui kompetensi yang telah dicapainya.

b.      Aspek Penyajian
Aspek penyajian buku teks yang baik menyajikan bahan secara lengkap, sistematis, sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan cara penyajian yang enak dibaca dan dipelajari. Ciri-ciri aspek penyajian memiliki dua  bagian yang meliputi:
·         Sistematis
Sistematis berarti materi yang disajikan memperhatikan kemudahan pemahaman siswa dalam hal penjelasan dan penggambaran, disusun secara sistematis, dan tersusun berdasarkan gradiasi tertentu, bahan kajian yang berkaitan dihubungkan satu sama lain secara terpadu, penempatan pelajaran dalam keseluruhan buku dilakukan secara tepat, materi yang disajikan diperhatikan dari segi urutan, seperti dari mudah ke sulit, dari sederhana ke rumit, dari umum ke khusus, dan sebagainya.
·         Ilustratif
Ilustratif maksudnya buku teks berisi materi yang disajikan dengan metode dan sarana yyang mampu menstimulasi siswa untuk tertarik membaca buku. Misalnya, disajikan gambar yang mampu membantu siswa untuk menemukan jawaban dari suatu latihan dengan adanya pojok/kolom diskusi maupun pojok/kolom rumus cepat, serta memperkonkret pengalaman belajar siswa dan memungkinkan siswa untuk membuktikannya dilingkungan sekitar atau melalui penelitian sederhana.
  1. Aspek Bahasa
Bahasa merupakan sarana dan sebagai alat dalam penyampaian dan penyajian bahan, seperti kosakata, kalimat, paragraf, dan wacana. Keterbacaan berkaitan dengan tingkat kemudahan bahasa bagi tingkatan siswa. Untuk setiap tingkatan siswa, buku teks bersifat komunikatif. Komunikatif artinya pemahaman harus didahului oleh komunikasi yang tepat. Faktor utama yang berperan disini adalah bahasa pengungkapan dilakukan secara lugas (tidak berbelit-belit), istilah diberi penjelasan atau contoh, penggunaan kata dan istilah dalam bahasa asing attaau bahasa daerah yang tidak relevan dihindari, penyajian mendorong keaktifan siswa untuk berpikir dengan cara bervariasi. Selain itu, bahasa yang digunakan sesuai dengan bahasa siswa, kalimat-kalimatnya efektif dan terhindar dari makna ganda.
d.      Aspek Grafika
Grafika merupakan bagian dari buku teks yang berkenaan dengan fisik buku, mliputi ukuran buku, jenis kertas, cetakan, ukuran huruf, warna dan ilustrasi yang membuat siswa menyenangi buku yang di kemas dengan baik dan akhirnya juga meminati untuk membacanya.

2.3       Fungsi atau Kegunaan Buku Teks Berbasis Intelektual.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa dunia kita ini adalah dunia buku. Dengan ungkapan ini, ditegaskan betapa pentingnya kedudukan buku, khususnya buku teks berbasis intelektual dalam kehidupan kita terutama dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya buku teks berbasis intelektual maka materi ilmu pengetahuan dapat dihimpun ke dalam suatu wadah yang selalu tersedia secara permanen.
Banyak cara efektif yang dapat dilakukan oleh para siswa dalam menggunakan serta memanfaatkan buku teks, antara lain dengan cara melatih mereka membaca intensif. Seorang guru hendaknya menjelaskan bahwa nilai buku teks tergantung atas penggunaannya bagi tujuan-tujuan mempelajari fungsi atau kegunaan buku teks berbasis intelektual tersebut. Adapun fungsi atau kegunaan buku teks tersebut antara lain:
·         Sumber pemecahan masalah akademis
Salah satu ciri buku teks berbasis intelektual adalah adekuasi, yaitu buku tersebut memuat materi yang menyajikan materi yang kaya, atau subject matter yang kaya, bervariasi, mudah dibaca dan dipahami sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah akademis dengan mudah. Itulah sebabnya, buku teks berbasis intelektual dilengkapi dengan pojok/kolom diskusi maupun pojok/kolom rumus cepat yang berguna untuk membantu siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah akademisnya.
·         Menstimulasi kreativitas siswa
Buku teks berbasis intelektual, selain berisi subject matter yang kaya, juga sangat ilustratif. Buku teks yang kaya akan materi, mudah dipahami dan dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik, dapat menstimulai kreativitas anak untuk membuktikannya di lingkungan sekitar maupun melalui penelitian sederhana. Misalnya pada pelajaran fisika pokok bahasan fluida mengenai hukum Archimedes. Setelah membaca isi buku teks berbasis intelektual tentang hukum Archimedes, siswa dapat membuktikan materi itu dalam kehidupan sehari-hari. Seperti mengetahui volume suatu benda dengan mencelupkan benda tersebut ke dalam air dan menghitung selisih volume air setelah benda dimasukkan (Vakhir) dan sebelum dimasukkan (Vawal) {Vbenda = Vakhir – Vawal}, Ini merupakan pengaplikasian terhadap hukum archimedes. Contoh lainnya yaitu mengenai katrol. Dengan berbagai penjelasan yang menarik dan penuh ilustrasi mengenai katrol di dalam buku teks berbasis intelektual, secara kreatif siswa kemudian akan menghubungkannya dengan katrol di rumah atau di lingkungan mereka masing-masing, seperti katrol penarik beban yang di gunakan di sumur dan lain-lain. Setelah membuktikan materi itu dalam kehidupan sehari-hari, siswa dapat mengetahui cara kerja dari katrol itu sendir
·         Memotivasi keaktifan siswa untuk berpikir
Motivasi berasal dari kata motif yang berarti daya pendorong bagi seseorang untuk aktif berpikir melakukan sesuatu. Motivasi diartikan sebagai penciptaan kondisi yang ideal. Buku teks berbasis inelektual adalah buku teks yang dapat membuat siswa ingin dan senang mengerjakaan apa yang diinstruksikan didalaam buku teks. Buku teks berbasis intelektual yang berisi pojok/kolom diskusi dapat membuat siswa untuk dapat berpikir aktif untuk memecahkan masalah yang diberikan dengan mengikuti instruksi dari buku teks berbasis intelektual tersebut. Misalnya dengan adanya ilustrasi, maupun kuis, dapat memotivasi dan melatih keaktifan siswa berpikir menyelesaikannya.
·         Menarik minat
Buku teks berbasis intelektual juga dapat menarik minat siswa untuk terlebih dahulu memiliki, kemudian membaca, dan selanjutnya mengerjakan latihan-latihan dalam buku teks berbasis intelektual. Artinya dengan adanya ciri-ciri aspek grafika dalam buku teks berbasis intelektual, yaitu yang berkenaan dengan fisik buku,  baik ukuran kertas, warna, ilustrasi dan lain-lain, maka siswa akan lebih berminat untuk memiliki dan membacanya. Selain dapat dilihat dari ciri-ciri aspek grafika, kegunaan dari buku teks berbasis intelektual juga dapat dilihat dari ciri-ciri aspek pennyajian. Aspek penyajian dalam buku teks berbasis intelektual memiliki bahan secara lengkap, sistematis dan sesuai tuntutan pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Jika penyajiannya bertahap, dari yang mudah ke yang sukar, sederhana ke rumit, dari umum ke khusus, dan sebagainya, maka tentu buku teks berbasis intelektual itu dapat menarik minat siswa untuk turut campur dalam menyelesikan kuis dan latihan-latihannya.   

2.4       Pengertian Model Representasi Teks
            Bila diartikan per kata, Model berarti pola (contoh, acuan, ragam) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan. Sedangkan representasi sebagai suatu tindakan yang menghadirkan atau mempresentasikan sesuatu lewat sesuatu yang lain diluar dirinya, biasanya berupa tanda atau simbol. Representasi adalah konsep yang digunakan dalam merujuk pada penggunaan bahasa dan gambar untuk membentuk makna mengenai dunia sekitar kita . Representasi artinya sesuatu yang digambarkan dan ditampilkan dalam naskah. Sementara teks adalah ungkapan bahasa yang memiliki / mengandungmakna, tatabahasa, dansusunan.
            Jadi, dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa Model Representasi Teks (MRT) didefinisikan sebagai sebuah antar muka yang dapat mewadahi analisis teks (terutama analisis koherensi dan wacana argumentatif dari teks). Hal ini dikarenakan Model Representasi Teks dapat menampilkan unit wacana secara berkesinambungan menurut fungsi keabstrakannya (dimensi progresi-elaborasi). Dengan demikian Model Representasi Teks dapat menghubungkan dasar wacana dan struktur substansi. Model Representasi Teks mensyaratkan kejelasan hubungan antara hubungan unit-unit teks dan ketepatan struktur pengetahuan pada berbagai tingkat menurut dimensi progresi dan melalui pengembangan mater-subjek menurut dimensi elaborasi.
            Upaya pengukuhan suatu kebenaran dapat dilihat pada Model Representasi Teks yang dihasilkan. Upaya pengukuhan pada level makro memiliki tindakan wacana makro dan level tindakan menurun sesuai dengan tindakan wacana yang diambil. Demikian juga proposisi kebenaran memiliki level yang sesuai dengan upaya pengukuhan mulai dari makro tema sampai mikro tema. Apabila pengukuhan berada pada tindakan makro maka proposisi kebenaran juga berada pada makro tema demikian sampai tindakan mikro yang sesuai dengan mikro tema. Kesesuaian ini dapat dilihat dari substansi sebagai makro tema dengan tindakan wacana memperkenalkan atau mengembangkan. Sub substansi sebagai mikro tema juga dapat disesuaikan dengan tindakan wacana pada level memperkenalkan, mengembangkan,atau memaparkan.

2.5       Unsur Model Representasi Teks
            Unsur Model Representasi Teks menampilkan unit wacana secara berkesinambungan menurut fungsi keabstrakannya (dimensi progresi-elaborasi).
1.      Dimensi Progresi
            Dimensi progresi dialurkan dari atas ke bawah. Semakin kebawah  tingkat abstraksinya semakin rendah (mendekati konkret). Kriteria  kejelasan antar hubungan unit-unit dicapai melalui pertahapan wacana dalam dimensi progresi Artinya suatu pemahaman materi teks yang disusun berdasarkan tingkatan-tingkatan yang semakin maju menuju ke arah konkret.
2.      Dimensi Elaborasi
            Dimensi elaborasi mengikuti alur dari kiri ke kanan untuk memungkinkan keutuhan hubungan hierarki antar unit-unit dalam materi subyek. Untuk setiap dimensi berlaku ketentuan: proposisi yang ditempatkan lebih belakang mempunyai hubungan subordinat terhadap proposisi yang ditempatkan lebih awal. Untuk dimensi elaborasi jika hubungan tersebut merupakan subordinat, maka sekuensial berdasarkan waktu atau ruang, preposisi tersebut ditempatkan berdampingan (hubungan koordinat). Untuk dimensi progresi, hubungan koordinat berlaku jika proposisi merupakan rujukan bagi proposisi yang mendahuluinya.
Materi pelajaran bisa disampaikan kepada siswa tanpa harus guru yang menyampaikan, akan tetapi suatu rekaman video yang berisi suatu pokok bahasan telah siap dipertontonkan kepada siswa. Materi pelajaran tersebut dibuat dengan kajian materi yang lebih terstruktur, yang dilengkapi dengan contoh, aplikasi dan animasi yang lebih audio-visual. Hal ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga mereka bisa belajar lebih bermakna.
Pengembangan materi pembelajaran didasarkan pada model representasi teks yang digunakan sebagai kerangka dasar analisis suatu teks. Fungsi model dalam menjaga kejelasan antar hubungan unit-unit teks dan ketepatan struktur materi subyek ilmu yang diwakilinya pada berbagai tingkat (Agus dalam Septihartadi, 2002).  Proposisi makro disusun dalam suatu struktur makro yang menunjukkan hubungan proposisi makro di dalam suatu keterpaduan progresi dan elaborasi.

2.6       Fungsi atau Kegunaan Model Representasi Teks
Adapun fungsi atau kegunaan Model Representasi Teks diantaranya:
·           Menganalisis tingkat kesesuaian buku teks (tinggi-menengah-rendah).
·           Memudahkan pembaca/pembelajar dalam memahami materi.
·           Menarik minat pembaca/pembelajar untuk membaca/mempelajari materi.
·           Membantu guru dalam membuat suatu pola yang dapat memudahkan untuk  penyampaian ulang suatu hal.
 Terdapat bagan dari model representasi teks menurut dimensi progresi dan elaborasi. Dimensi progresi mengendalikan pengembangan teks secara makro, dinyatakan oleh P-I sampai P-IV. P-I dan P-IV merupakan progresi linier karena berada pada tingkat yang sama dengan topik. Pada dimensi progresi menjelaskan langkah-langkah pengendalian umum sebagai proses pengembangan wacana yang lebih menyeluruh terlepas dari struktur materi subyek, serta fasilitas untuk menerapkan fungsi pedagogi dan materi subyek merupakan pengendalian materi subyek secara makro.
Menurut Siregar (dalam Septihartadi, 2002) proposisi merupakan pernyataan pengukuhan dibedakan menurut tingkat abstraksinya. Proposisi dengan tingkat abstraksi tinggi dinyatakan dalam kotak tebal dan dirujuk sebagai proposisi makro, tingkat abstraksi rendah dinyatakan dalam kotak biasa dan dirujuk sebagai proposisi mikro. Baik proposisi makro (P) maupun mikro (S) masih dapat diuraikan kedalam beberapa proposisi bawahan. Penguraianiniditunjukkanoleh P-II dan P-III terhadap P-I dan S-3 terhadap S-2.Dari Gambar 2.1 tersebut, proposisimakroutamaditunjukkanoleh P-I dan P-IV, sedangkan P-II dan P-III adalah makro bawahan. Begitu pula dengan struktur mikro, struktur mikro utama ditunjukkan oleh S-1, S-2, S-4, S-5, S-7, S-9, S-10, dan S-11, sedangkan mikro bawahan ditunjukkan oleh S-3, S-6, S-8, dan S-12.
            Tugas utama dalam analisis wacana adalah mengorganisasi terkecil, proposisi mikro (upaya pengukuhan yang mewakili struktur permukaan teks menjadi unit yang lebih besar yaitu proposisi makro). Secara berulang– ulang proposisi makro dapat digabung menjadi proposisi makro yang lebih umum pada tingkatan abstraksi yang akhirnya menjadi proposisi global. Dilihat dari fungsi realisasi motif, keseluruhan organisasi proposisi yang dihasilkan, disebut struktur makro, adalah rangkaian tema (representasi materi subjek) yang terorganisasi secara hierarkis (super–ordinat–hubungan ke atas, sub-ordinat– hubungan ke bawah, dan koordinat-hubungan mendatar). Analisis wacana dengan demikian dipermudah oleh dua bentuk keteraturan yang saling mengisi yaitu urutan proposisi makro hasil realisasi motif (dimensi progresi) dan hirarki tema yang dikendalikan oleh materi subyek (dimensi elaborasi).
            Menurut analisis wacana, motif direalisasikan menurut dimensi vertical dan horizontal. Realisasi vertical menyangkut tindakan makro yang diterapkan dalam rangka mewujudkan tujuan dari suatu wacana (dimensi progresi) dan tindakan makro menurut organisasi tema (dimensi elaborasi). Hubungan antar tindakan makro di dalam dimensi progresi merumuskan struktur wacana, sedangkan hubungan antar tindakan mikro dalam dimensi elaborasi menentukan struktur materi subyek yang dibentuk dalam wacana.
            Model representasi teks kiranya membuka jalan bagi penanggulangan proses transformasi media penulisan dari yang linier (tekstual) menuju non-linier (hipertekstual) serta menangani masalah disorientasi pembaca karena sifat dasar non-linier dari hiperteks. Tetapi analisis terhadap sifat dasar ini masih terlalu singkat dan baru berupa artefak yang belum terjangkau secara akademik karena pemproduksiannya(representasi hipertekstual) yang menyimpang baik secara tradisional maupun sosial dari teks linier. Walaupun diperkirakan berdaya guna karena dapat meningkatkan intelektualitas pembaca, akan tetapi dirasakan masih sukar dicapai karena teks akademik mempunyai struktur dalam tertentu yang kurang accessibel bagi pembaca.Tanpa mampu menjangkau struktur dalam ini, pengetahuan menjadi sekumpulan informasi, bukan merupakan suatu bangunan yang bermakna yang memperlihatkan antar hubungan konten, substansi dan sintaktikal.
            Terlepas dari sifat prematur asumsi dari kemungkunan masih terjadinya disorientasi navigasi serta tidak terjangkaunya struktur dalam, kiranya model representasi teks dapat dijadikan landasan pokok penganalisisan teks sehingga teridentifikasi wacana argumentatifnya.(dimensi progresi dan dimensi elaborasi). Selain itu, model representasi teks dipandang lebih memadai ketimbang model inti dan satelit dari teori statis karena sudah relevan untuk konteks wacana sains.
a.       Abstrak berarti tidak berwujud, tidak berbentuk atau sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera.
b.      Kriteria accesible adalah kriteria yang menghendaki agar transformasi materi subyek mudah diakses dan dipahami oleh peserta didik.
c.       Proposisi adalah suatu kalimat yang merupakan pernyataan pengukuhan antara hubungan konsep dan dibedakan menurut tingkat abstraksinya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar