Senin, 19 November 2012

Dasar - Dasar Pengembangan Kurikulum



1.      Pengertian Kurikulum

Pengertian Kurikulum dapat diartikan dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, kurikulum berarti pelajaran tentang bidang studi sedangkan dalam arti luas, kurikulum berarti semua yang dipelajari siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah sejauh relevan dengan tujuan pendidikan.
Dimyati dan Mudjiono (1999; 267) menyimpulkan bahwa kurikulum itu:
a.       Sebagai jalan meraih ijazah
b.      Sebagai mata dan isi pelajaran
c.       Sebagai rencana kegiatan pembelajaran
d.      Sebagai hasil belajar
e.       Sebagai pengalaman belajar
Menurut Hass (dalam Waspodo 2004; 3), kurikulum tepat diberi makna sebagai semua pengalaman yang dimiliki oleh setiap pembelajar dalam program pendidikan yang diarahkan kepada tercapainya tujuan yang luas dan harus dihubungkan dengan tujuan-tujuan tertentu yang yang direncanakan atas dasar kerangka teoritik dan hasil-hasil penelitian atau praktek profesional pada masa lalu dan saat ini.
Menurut Taba (1962; 425) ada empat elemen dalam kurikulum yaitu:
a.       Tujuan
b.      Mata pelajaran
c.       Metode dan organisasi
d.      Evaluasi
Dalam UU Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989 pasal 1 menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan belajar mengajar (Depdikbud: 1989; 3).
            Memahami makna kurikulum mengisyaratkan bahwa pelaksanaannya sekurang-kurangnya terdapat dua persoalan pokok yaitu:
a.       Kurikulum aktual yang menunjuk pada aktualisasi program yang terancang secara sistematis. Wujud nyata kurikulum seperti ini adalah mata pelajaran yang diajarkan, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses pembelajaran, media yag digunakan, evaluasi yang digunakan guru, dan sebagainya.
b.      Kurikulum tersembunyi (Hidden Curiculum) yaitu sejumlah pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa namun tidak dirancang dan tidak dinyatakan secara nyata dalam pencapaiannya.
Pada dasarnya pada pembelajaran banyak kegiatan yang tersembunyi yang tidak secara eksplisit dirancang oleh guru. Menurut Waspodo (2004; 3) pada kenyataannya justru kurikulum tersembunyi yang mendominasi proses pembelajaran dan bukan kurikulum aktual. Dampak pengembangan kurikulum tersembunyi juga cukup signifikan dalam pengembangan kemampuan siswa.


2.      Landasan Pengembangan

Pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan (Dimyati dan Mudjiono; 1999; 268). Kurikulum merupakan wahana belajar mengajar yang dinamis yang menentukan penilaian dan perlu dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan sesuai perkembangan yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang terbaik meliputi:
a.       Kemudahan-kemudahan suatu analisis tujuan
b.      Rancangan suatu program
c.       Penerapan serangkaian pengalaman yang berhubungan
d.      Peralatan dan evaluasi
Agar pengembangan kurikulum dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan maka pengembangan kurikulum diperlukan landasan-landasan yang mengacu pada tiga unsur, yaitu:
a.       Nilai dasar yang merupakan falsafah dalam pendidikan manusia seutuhnya
b.      Fakta empirik yang tercermin dari pelaksanaan kurikulum baik berdasarkan penilaian kurikulum, studi maupun survei lainnya.
c.       Landasan teori yang menjadi arah pengembangan dan kerangka penyorotnya
Dalam mengembangkan kurikulum harus memperhatikan landasan-landasan pengembangan kurikulum. Landasan tersebut adalah:
a.       Landasan filosofis
b.      Landasan sosial budaya dan agama
c.       Landasan IPTEK dan seni
d.      Landasan kebutuhan masyarakat
e.       Landasan pengembangan masyarakat

1.      Landasan Filosofis
Pendidikan berada dalam kehidupan masyarakat sehingga apa yang dikehendaki oleh masyarakat untuk dilestarikan melalui pendidikan. Dengan demikian pandangan dan wawasan yang ada dalam masyasrakat merupakan pandangan dan wawasan dalam pendidikan. Oleh karena itu, landasasn filosofis pengembangan kurikulum adalah hakikat realistis, ilmu pengetahuan, sisstem nilai, dan hakikat pikiran yang ada dalam masyarakat.
2.      Landasan Sosial Budaya dan Agama
Realitas sosial budaya dan agama yang ada di masyarakat merupakan bahan kajian pengembangan kurikulum. Pendidikan yang dirancang melalui kurikulum dimanfaatkan untuk melaksanakan, melestarikan dan menerima nilai-nilai sosial budaya dan agama yang menjadi pegangan hidup dalam interaksi sosial.
3.      Landasan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni
Mengingat pendidikan merupakan upaya penyiapan siswa menghadapi perubahan yang semakin pesat, termasuk didalamnya perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, maka pengembangan kurikulum haruslah berlandaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.      Landasan Kebutuhan Masyarakat
Adanya perbedaan antara masyarakat satu dengan yang lain sebagian besar disebabkan oleh kualitas kualitas individu yang menjadi masyarakat tersebut. Di sisi lain kebutuhan masyarakat pada umumnya berpengaruh terhadap individu-individu anggota masyarakat. Oleh karena itu pengembangan kurikulum harus ditekankan pada pengembangan individu yang mencakup keterkaitannya dengan lingkungan sosial setempat.
5.      Landasan Pengembangan Masyarakat
Perkembangan masyarakat akan menuntut tersedianya proses pendidikan yang sesuai. Untuk menciptakan proses pendidikan yang sesuai dengan pengembangan masyarakat maka diperlukan rancangannya berupa kurikulum yang landasan pengembangannya perkembangan masyarakat itu sendiri.
3.      Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
Berbagai prinsip pengembangan kurikulum diantaranya prinsip relevansi, prinsip kontinuitas dan prinsip fleksibelitas.
1.      Prinsip relevansi
Relevansi berarti sesuai antara komponen tujuan, isi, organisasi, dan evaluasi kurikulum serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik dalam pemenuhan tenaga kerja maupun warga masyarakat yang diidealkan. Nana Sy (1988; 167-168) membedakan relevansi jadi dua macam, yakni relevansi keluar maksudnya, tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum, hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Sedangkan relevansi ke dalam yaitu terjalin relevansi di antara komponen-komponen kurikulum yaitu, tujuan, isi, proses penyampaian, dan evalusi.
2.      Prinsip Kontinuitas
Komponen kurikulum yakni tujuan, isi, organisasi dan evaluasi dikembangkan secara bekesinambungan baik secara vertikal maupun secara horizontal. Secara vertikal menurut adanya kerja sama antara pengembangan kurikulum jenjang pendidikan dasar, menengah dan jenjang pendidikan tinggi. Sedangkan secara horizontal dapat diartikan pengembangan kurikulum dilakukan secara terpadu.
3.      Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum harus mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu yang selalu berkembang tanpa merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai. Prinsip fleksibilitas menuntut adanya keluwesan dalam mengembangkan kurikulum tanpa mengorbankan tujuan yang akan dicapai.
Dalam pendekatan kurikulum ada beberapa pendekatan yang setiap pendekatan ada ciri masing-masing. Pada mulanya dikenal pendekatan kurikulum yang berpusat pada guru (teacher centered curiculum) kemudian diganti dengan kurikulum yang menggunakan pendekatan yang berpusat pada mata pelajaran (subject centered curiculum). Pendekatan berikutnya dalam pengembangan kurikulum berpusat pada kemampuan yang diharapkan dikuasai oleh siswa (competency based curiculum). Pemikiran ini muncul dikaitkan dengan pandangan bahwa lulusan dari suatu jalur, jenis dan jenjang pendidikan tertentu harus menguasai kemampuan yang diprogramkan, terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan lulusan dalam dunia kerja. Saat ini sedang dirintis pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK).
4.      Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang dirancang atas dasar outcome base, yaitu kurikulum yang berorientasi pada hasil yang berupa kompetensi yang dimiliki siswa setelah melaksanakan sejumlah pengalaman belajar.
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah kurikulum yang didasarkan pada prinsip relevansi, terutama relevansi pendidikan dengan dunia kerja. Oleh karena itu, kurikulum ini berusaha menterjemahkan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan oleh manusisa untuk hidup di masyarakat dengan seperangkat kompetensi yang diajarkan di sekolah.
Secara teoritis dasar filosofis Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah psikologi ehavioristik (Hasan, 2002; 6). Hal ini tampak pada penggunaan rumusan tujuan yang terukur dan teramati dalam setiap kegiatan pembelajaran. Tujuan yang teramati dan terukur itu juga untuk menentukan apakah tujuan sudah tercapai. Dalam hal ini kompetensi pencapaian kompetensi siswa dilihat dari perilaku yang tampak menunjukkan suatu kompetensi telah dikuasai.
Adapun kekuatan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi bahwa kurikulum ini lebih mendekatkan siswa kepada kebutuhan masyarakat secara nyata, sedangkan kelemahannya adalah lebih cocok diterapkan pada pengetahuan tingkat rendah, terlalu menyederhanakan kompetensi dengan suatu yang teramati dan terukur, serta sulitnya mengejar kemampuan industri dan dunia kerja yang merupakan saasaran akhir dari kegiatan pembelajaran.
Menurut Karhami (2002) pengembangan kurikulum berbasis kompetensi didasarkan pada hal-hal berikut:
a.       Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi berorientasi pada pencapaian hasil dan dampakanya yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi
b.      Kurikulum berbasis kompetensi bertitik tolak dari kompetensi yang diharapakan dimiliki siswa setelah menyelesaiakan pendidikannya
c.       Di tingkat pusat dikembangkan kompetensi dasar yang harus dikembangkan oleh daerah atau sekolah yang beruapa silabus dan perangkat pembelajaran
d.      Pengembangan kurikulum yang utuh dan menyeluruh mencakup pembentukan karakter, penguasaan keterampilan hidup dan akademik, hidup sehat dan mengapresiasi seni melalui kegiatan intra dan ekstrakurikuler
e.       Untuk menjamin kompetensi dasar dapat dicapai perlu diterapkan prinsip dasar tuntas dan kegiatan pembelajaran di kelas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar