Minggu, 25 November 2012

Sistem Pemprosesan Informasi



2.1  TEORI PEMROSESAN INFORMASI

Ada beberapa pendapat mengenai pengertian belajar, diantaranya :
Menurut Howard L. Kingsley dalam Dantes (1997) mengemukakan bahwa 'belajar adalah suatu proses bukan produk. Proses dimana sifat dan tingkah laku ditimbulkan dan diubah melalui praktek dan latihan‟. Sedangkan menurut  Jauhari (2000:75) mengatakan bahwa belajar adalah proses untuk memperoleh perubahan yang dilakukan secara sadar, aktif, dinamis, sistematis, berkesinambungan, integrativ dan tujuan yang jelas‟. Sejalan dengan itu, Fontana dalam Khoir (1991) memusatkan belajar dalam tiga hal, yaitu belajar adalah mengubah tingkah laku, perubahan adalah hasil dari pengalaman, dan perubahan terjadi dalam perilaku individu.
Jadi, pada hakekatnya belajar adalah segala proses atau uasaha yang dilakukan secara sadar, sengaja, aktif, sistematis dan integrativ untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam dirinya menuju kearah kesempurnaan hidup.
Berkenaan dengan hal ini, ada sebuah teori yang membahas tentang peran operasi-operasi kognitif dalam pengolahan informasi sebagai usaha untuk menciptakan dan membentuk perubahan perilaku, teori ini dikenal dengan teori sistem pemrosasan informasi.
Dalam teori ini manusia dipandang sebagai sistem yang memodifikasi informasi sendiri secara aktif dan terorganisir. Perkembangan seseorang dalam pemrosesan informasi berkaitan dengan perubahan-perubahan kuantitatif dan kualitatif serta pengaruh-pengaruh genetis dan lingkungan. Inti dari perkembangan dalam pemrosesan informasi adalah terbentuknya sistem pada diri seseorang yang semakin efisien untuk mengontrol aliran informasi (Miller, 1993).

Teori pemrosesan informasi bermula dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran.
Menurut teori  ini, belajar merupakan proses mengolah informasi. Proses belajar itu sendiri memang penting dalam teori pemrosesan informasi, namun teori ini menganggap sistem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari siswa adalah yang lebih penting. Karena Informasi inilah yang akan menentukan proses, dan bagaimana proses belajar akan berlangsung, akan sangat ditentukan oleh sistem informasi yang dipelajari.

Implementasi teori pemrosesan informasi dalam kegiatan pembelajaran telah dikembangkan oleh beberapa tokoh, di antaranya adalah pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner, Biehler, Snowman, Baine, dan Tennyson.
Teori Pemrosesan Informasi Gagne
Teori belajar yang dirintis oleh Gagne (1988) disebut dengan ‘Information Processing Learning Theory’.  Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga ‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

2.2             SISTEM PEMROSESAN INFORMASI

Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan, dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
  1. Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
  2. Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
  3. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses kontrol). Komponen pemrosesan informasi dipilah menjadi tiga bagian berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya “lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah; 1) sensory receptor, 2)working memory, dan 3) long term memory. Sedangkan proses kontrol diasumsikan sebagai strategi yang tersimpan di dalam ingatan dan dapat dipergunakan setiap saat diperlukan.


a. Sensory Receptor (SR)
 Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar  tetap berada dalam  sistem, informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
b. Working Memory (WM)
Pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar.
Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya.
c. Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan. Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan. Dikemukakan oleh Howard (1983) bahwa informasi disimpan di dalam LTM dalam bentuk prototipe, yaitu suatu struktur representasi pengetahuan yang telah dimiliki yang berfungsi sebagai kerangka untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan lain, Tennyson (1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base) (Lusiana, 1992).


Sistem Pemrosesan Infomasi
Sistem pemrosesan infomasi ini sendiri dapat dianalogikan melalui model pemrosesan informasi berikut ini.
Model pemrosesan informasi di atas digambarkan sebagai kumpulan kotak-kotak yang dihubungkan dengan garis-garis. Kotak-kotak itu menggambarkan fungsi-fungsi atau keadaan sistem, dan garis-garis menggambarakan transformasi yang terjadi dari suatu keadaan ke keadaan yang lain.
Dalam model ini, informasi dalam bentuk energi fisik tertentu (sinar untuk bahan tertulis, bunyi untuk ucapan, tekanan untuk sentuhan, dan lain-lain) diterima oleh reseptor yang peka terhadap energi dalam bentuk-bentuk itu. Reseptor-reseptor ini mengirimkan tanda-tanda dalam bentuk implus elektrokimia ke otak. Jadi transformasi pertama yang dialami informasi ialah dari berbagai bentuk energi ke satu bentuk yang sama. Imlplus-implus saraf dari reseptor masuk ke suatu registor pengindraan yang terdapat dalam sistem saraf pusat. Informasi pengindraan disimpan dalam sistem saraf pusat selama waktu yang sangat singkat sekali; menurut Sperling hanya selama seperempat detik. Dari seluruh informasi yang masuk ini sebagian kecil yang disimpan untuk selanjutnya diteruskan ke memori jangka pendek, sedangkan selebihnya hilang darri sistem. Proses reduksi ini disebut presepsi selektif.
Memori jangka pendek secara kasar dapat disamakan dengan kesadaran. Artinya,  apa yang kita sadari pada suatu waktu, dikatakan  terdapat pada memori jangka pendek kita. Informasi keluar dari memori jangka pendek dalam waktu kira-kira 10 detik, keculi jika informasi itu diulang-ulang. Memori jangka pendek ini dapat juga kita sebut sebagai memori kerja, yang merupakan tempat dilakuakannya kegiatan mental secara sadar.
Informasi dalam memori kerja dapat dikode, kemudian disimpan dalam memori jangka panjang. Pengkoden (coding) merupakan suatu proses transformasi dimana informasi baru diintegrasikan pada informasi lama dengan berbagai cara. Memori jangka panjang menyimpan informasi yang akan digunakan di kemudian hari.
Informasi yang telah disimpan dalam memori jangka panjang, bila akan digunakan lagi harus dipanggil. Informasi yang telah dipanggil merupakan generasi respon. Dalam  pikiran sadar informasi mengalir dari memori jangka panjang ke generator respons selama pemanggilan.
Generator respon mengatur urutan respons, dan membimbing efektor-efektor. Efektor-efektor ini meliputi semua otot dan kelenjar kita, tetapi untuk tugas sekolah, efektor yang utama ialah tangan untuk menulis dan alat suara untuk berbicara.
Aliran informasi dalam sistem manusia ternyata bertujuan, dan diatur oleh kotak-kotak yang disebut harapan dan kontrol eksekutif. Khususnya harapan tentang hasil kegiatan mental mempengaruhi pemrosesan informasi, seperti prosedur pengontrolan dan strategi-strategi mempengaruhi pencapaian tujuan-tujuan.

2.3             PENYAJIAN PENGETAHUAN

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, kapasitas memori manuasia sangat terbatas, sehingga tidak semua informasi (pengetahuan) yang diterima dapat disimpan. Untuk menyiasati hal ini, maka diperlukan sebuah peyajian pengetahuan yang terdiri dari:
1.      Proposisi
2.      Produksi
3.      Gambaran mental
Proposisi

Proposisi merupakan unit dasar informasi dalam sistem pemrosesan informasi manusia. Proposisi dapat disamakan dengan gagasan.

Hubungan dan Argumen Proposisi

Suatu proposisi selalu terdiri atas dua unsur:suatu hubungan dan sekumpulan argumen. Argumen merupakan topik proposisi, yang dapat berupa kata benda atau kata ganti(kadang-kadang dapat berupa kata kerja atau kata sifat). Hubungan suatu proposisi dapat berupa kata kerja,kata sifat, dan kata keterangan.

1.      Beberapa Contoh Proposisi serta Hubungan dan Argumennya

Proposisi
Hubungan (relasi)
Argumen
Air menguap
Maya membaca buku
Ayah memberikan kunci pada Adi
Menguap
Membaca
Memberikan
Air
Maya, buku
Ayah, kunci, Adi


2.      Beberapa proposisi dengan lebih dari satu argumen

Proposisi
Hubungan(relasi)
Argumen
Ibu memberi pensil pada Amir
Ahmad pergi ke sekolah
Ruli mengukur suhu dengan termometer
Memberi

Pergi
Mengukur
Ibu (subjek), Amir (penerima), pensil(objek)
Ahmad (subjek), sekolah(tujuan)
Ruli(subjek),suhu(objek),termometer(alat)


Perlu diperhatikan perbedaan antara kata, frasa dan kalimat di satu pihak dan proposisi di lain pihak. Kata ,frasa dan kalimat merupakan cara mengkomunikasikan gagasan, sedangkan proposisi merupakan gagasan itu sendiri ,jadi proposisi lebih abstrak.

R. gagne dalam bukunya the condition of learning mengungkapkan betapa pentingya proposisi. Kata-kata yang mengungkapkan fakta-fakta tidak seluruhnya disimpan dalam memori. Tetapi yang direproduksi ialah “gagasan”. Dengan demikian informasi faktual yang dipelajari dan disimpan dalam memori sebagai proses bermakna.

Proposisi dalam Bentuk Lingkaran-Panah

Suatu proposisi yang terdiri atas satu relasi dan satu atau lebih argumen dapat dinyatakan atau digambarkan dengan bentuk lingkaran panah. Bentuk semacam ini lebih berguna kalau akan menggambarkan kaitan beberapa proposisi daripada jika digambarkan dalam bentuk daftar. Panah mengarah pada setiap proposisi,dan diberi nama untuk menyatakan peranan unsur itu dalam proposisi tertentu.

Jaringan Proposisi

Salah satu ciri suatu unit informasi yang paling penting adalah kaitannya dengan unit-unit yang lain. Karena kaitan antara unit-unit informasi ini merupakan aspek yang penting dari intelegensi, penting juga untuk mengetahui cara menggambarkannya.

Salah satu cara adalah dengan jaringan proposisi yang merupakan himpunana proposisi yang saling berkaitan. Setiap dua proposisi yang memiliki bersama satu unsur ,saling terkait melalui unsur itu.

Suatu jaringan proposisi merupakan konstruk hipotesis . Walaupun demikian, jaringan-jaringan proposisi selanjutnya merupakan konstruk yang dapat menolong kita dalam berfikir tentang proses kognitif.

Penelitian Hayes-Roth dan Thorndyke (dalam E.Gagne 1985) menunjukan bahwa manusia menyimpan informasi dalan jaringan proposisi. Penelitian ini menyarankan bahwa baik atau buruknya informasi itu terintregasi dalam memori bergantungpada apakah dua informasi yang ada hubungannya itu aktif dalam memori kerja pada waktu yang sama. Prinsip ini sangat penting dalam mengajar.

Pengetahuan Deklaratif dan Prosedural

Proposisi digunakan untuk menyajikan pengetahuan deklaratif, sedangakan pengetahuan prosedural disajiakn oleh produksi. Pengetahuan deklaratif menyatakan pengetahuan apa sesuatu itu, sedangakan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu.

Pengetahuan deklaratif dapat berbeda dalam topik dan ruang lingkup. Kita dapat mengetahui tentang fakta, generalisasi, kejadian-kejadian pribadi. Selain itu, fakta-fakta dapat disusun menjadi himpunan fakta,generalisasi-generalisasi di susun menjadi tori-teori ,dan kejadian-kejadian pribadi dapat disusun menjadi sejarah hidup. Jelaslah bahwa pengetahuan deklaratif memiliki banyak ragam.

Semua pengetahuan deklaratif itu relatif statis. Pengetahuan prosedural itu lebih dinamis. Bila pengetahuan prosedural di aktifkan ,hasilnya bukan pemangilan informasi,melainkan suatu transformasi informasi. Misalnya, hasil mengerjakan soal 333/3 adalah 111. Informasi input (333/3) telah diubah menjadi suatu output (111) yang berbeda bentuknya dengan input. Jadi pengetahuan prosedural digunakan untuk mentransformasi informasi.

Perbedaan lain dari pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural adalah dalam kecepatan mengaktifkannya. Bila pengetahuan prosedural sekali telah dipelajari dengan baik, pengetahuan ini bekerja secara cepat dan otomatis.

Produksi 
Aturan Kondisi – Aksi

Produksi meruapakan kondisi aturan – aturan kondisi-aksi. Artinya, produksi memprogram terjadinya aksi-aksi tertentu pada kondisi tertentu.

Suatu produksi mempunyai dua anak kalimat, satu anak kalimat jika, dan satu anak kalimat maka. Anak kalimat JIKA menentukan kondisi atau kondisi yang harus ada agar terjasi  aksi-aksi tertentu. Anak kalimat MAKA memuat aksi-aksi  yang terjadi bila kondisi-kondisi yang terdapat dalam anak kalimat JIKA terpenuhi.

System Produksi

Sistem produksi memperlihatkan gagasan otomatis yang merupakan suatu ciri penting produksi. Suatu system produksi mirip dengan suatu set thermostat yang secara otomatis mulai bekerja pada kondisi-kondisi tertentu. Bila pengetahuan disajikan dalam bentuk produksi, pengambilan keputusan terjadi tanpa banyak pekerjaan yang disadari. Dengan lain perkataan, terjadi secaa otomatis.

Gambaran Mental

Menurut E. Gagne, gambaran mental merupakan penyajian-penyajian analog (Gagne, E. 19985: 65). Biehler (1982: 205) mengemukakan bahwa pada umumnya gambaran mental berarti suatu penyajian nonverbal suatu objek konkret atau kejadian, missalnya suatu gambar.



Gambaran mental digunakan dalam memori bekerja untuk memanipulasi informasi special, yaitu  informasi yang menyangkut ruang. Selain itu gambaran mental juga dapat digunakan untuk memikirkan dimensi-dimensi abstrak. Penggunaan gambaran mental selama menggungkapkan informasi baru kelihatannya menolong mengingat informasi itu (Gegne, E. 1985: 63).

Ekonomi Penyajian

Dalam bab ini kita membahas beberapa bentuk penyajian pengetahuan yang sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan arsitektural system pemrosesan informasi. Hal yang ditekankan dalam bab ini ialah pengetahuan itu disajikan dalam bentuk-bentuk yang mengurangi beban pada memori kerja. Jaringan proposisi mengurangi beban dengan tersedianya pengetahuan yang berhubungan. Dengan demikian, bila kita memikirkan gagasan tertentu, gagasan-gagasan yang berhubungan dengan mudah timbul dalam pikiran. System produksi mengurangi beban pada memori kerja dengan membiarkan control mengalir secara otomatis dari satu tingkat dalam serangkaian operasi-operasi mental ke tingkat yang lain. Suatu proses, yang berlangsung otomatis, mengambil sedikit tempat dalam memori kerja. Gambaran mental mengurangi beban dengan menyajikan informasi spasial secara impilsit. Dibandingkan dengan proposisi, gambaran mental dapat memasukan lebih banyak informasi spasial ke dalam memori kerja tanpa melampaui kapasitasnya.

2.4  IMPLEMENTASI SISTEM PEMROSESAN INFORMASI DALAM     PEMBELAJARAN FISIKA
Sejalan dengan teori pemrosesan informasi, Ausubel (1968) mengemukakan bahwa perolehan pengetahuan baru merupakan fungsi struktur kognitif yang telah dimiliki individu. Reigeluth dan Stein (1983) mengatakan bahwa pengetahuan ditata di dalam struktur kognitif secara hirarkhis. Ini berarti, pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu dapat mempermudah perolehan pengetahuan baru yang lebih rinci. Implikasinya di dalam pembelajaran, semakin baik cara penataan pengetahuan sebagai dasar pengetahuan yang datang kemudian, semakin mudah pengetahuan tersebut ditelusuri dan dimunculkan kembali pada saat diperlukan.
Teori belajar pemrosesan informasi termasuk dalam lingkup teori kognitif yang mengemukakan bahwa belajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan merupakan perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu. Namun memori kerja manusia mempunyai kapasitas yang terbatas. Menurut Gagne, untuk mengurangi muatan memori kerja bentuk pengetahuan yang dipelajari dapat berupa:
1.      proposisi
2.      produksi
3.      gambaran mental

Teori Gagne dan Briggs mempreskripsikan kedalam
1.      kapabilitas belajar
2.      peristiwa pembelajaran
3.      pengorganisasian/urutan pembelajaran.
Mengenai kapabilitas belajar kaitannya dengan unjuk kerja dirumuskan oleh Gagne sebagai berikut (Degeng, 1989).
No.
Kapabilitas Belajar
Unjuk Kerja
1.
Informasi verbal
Menyatakan informasi
2.
Ketrampilan Intelektual
Menggunakan simbol untuk berinteraksi dengan lingkungan.

- Diskriminasi
Membedakan perangsang yang memiliki dimen-si fisik yang berlainan.

- Konsep konkrit
Mengidentifikasi contoh-contoh konkrit.

- Konsep abstrak
Mengklasifikasi contoh-contoh dengan meng-gunakan ungkapan verbal atau definisi.

- Kaidah
Menunjukkan aplikasi suatu kaidah.

- Kaidah tingkat lebih tinggi
Mengembangkan kaidah baru untuk memecah-kan masalah.
3.
Strategi Kognitif
Mengembangkan cara-cara baru untuk meme-cahkan masalah. Menggunakan berbagai cara untuk mengontrol proses belajardan/atau berpikir.
4.
Sikap
Memilih berperilaku dengan cara tertentu.
5.
Ketrampilan Motorik
Melakukan gerakan tubuh yang luwes, cekatan, serta dengan urutan yang benar.

Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Tahapan-tahapan ini dapat dimudahkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang mengikuti urutan tertentu sebagai peristiwa pembelajaran (the events of instruction), yang mempreskripsikan kondisi belajar internal dan eksternal utama untuk kapabilitas apapun. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran yang diasumsikan sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah:
1.         Menarik perhatian.
2.         Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa.
3.         Merangsang ingatan pada prasyarat belajar.
4.         Menyajikan bahan perangsang.
5.         Memberikan bimbingan belajar.
6.         Mendorong unjuk kerja.
7.         Memberikan balikan informatif.
8.         Menilai unjuk kerja.
9.         Meningkatkan retensi dan alih belajar.
Dalam mengorganisasikan pembelajaran perlu dipertimbangkan ada tidaknya prasyarat belajar untuk suatu kapabilitas, apakah siswa telah memiliki prasyarat belajar yang diperlukan. Ada prasyarat belajar utama, yang harus dikuasai siswa, dan ada prasyarat belajar pendukung yang dapat memudahkan belajar. Pengorganisasian pembelajaran untuk kapabilitas belajar tertentu dijelaskan sebagai berikut:
Pengorganisasian pembelajaran ranah ketrampilan intelektual.
Menurut Gagne, prasyarat belajar utama dan keterkaitan satu dengan lainnya digambarkan dalam hirarkhi belajar. Reigeluth membedakan struktur belajar sebagai ketrampilan yang lebih tinggi letaknya di atas, sedangkan ketrampilan tingkat yang lebih rendah ada di bawahnya.
Pengorganisasian pembelajaran ranah informasi verbal.
Kemampuan ini menghendaki siswa untuk dapat mengintegrasikan fakta-fakta ke dalam kerangka yang bermakna baginya.
Pengorganisasian pembelajaran ranah strategi kognitif.
Kemampuan ini banyak memerlukan prasyarat ketrampilan intelektual, maka perlu memasukkan ketrampilan-ketrampilan intelektual dan informasi cara-cara memecahkan masalah.
Pengorganisasian pembelajaran ranah sikap.
Kemampuan sikap memerlukan prasyarat sejumlah informasi tentang pilihan-pilihan tindakan yang tepat untuk situasi tertentu, juga strategi kognitif yang dapat membantu memecahkan konflik-konflik nilai pada tahap pilihan.
Pengorganisasian pembelajaran ranah ketrampilan motorik.
Untuk menguasai ketrampilan motorik perlu dimulai dengan mengajarkan kaidah mengenai urutan yang harus diikuti dalam melakukan unjuk kerja ketrampilan yang dipelajari. Diperlukan latihan-latihan mulai dari mengajarkan bagian-bagian ketrampilan secara terpisah-pisah kemudian melatihkannya ke dalam kesatuan ketrampilan.
Keunggulan strategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemrosesan informasi adalah:
1.         Cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
2.         Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis.
3.         Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap.
4.         Adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai.
5.         Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.
6.         Kontrol belajar (content control, pace control, display control, dan conscious cognition control) memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu (prinsip perbedaan individual terlayani).
7.         Balikan informatif memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
Dengan demikian aplikasi teori sistem pemrosesan informasi dalam kegiatan pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan (2001) baik diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.         Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2.         Menentukan materi pembelajaran.
3.         Mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi pelajaran.
4.         Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan sistem informasi tersebut (apakah algoritmik atau heuristik).
5.         Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan sistem informasinya.
6.         Menyajikan materi dan membimbing siswa belajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran.
Bila kita kaitkan sistem pemrosesan informasi dalam pembelajaran fisika berdasarkan paparan diatas, maka dapat kita lakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
1.      Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah menarik perhatian siswa. Hal ini merupakan langkah awal untuk membuat siswa dapat memusatkan perhatiannya pada materi pembelajaran fisika yang akan diajarkan. Kita dapat menggunakan multimedia misalnya. Karena seperti yang kita ketahui, multimedia memiliki tampilan yang lebih menarik bagi siswa. Kita bisa memanfaatkan fungsi indera peserta didik secara lebih optimal. Misalnya, peserta didik tidak lagi hanya akan melihat deretan tulisan yang membosankan, namun akan jauh lebih menarik dari itu, peserta didik dapat melihat sejumlah animasi-animasi yang dapat mewakili materi yang diajarkan, bukan sekedar membayangkan.
Selain itu, kita juga dapat memberikan beberapa pertanyaan yang sifatnya “menantang” di awal pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan ini diamaksudkan untuk menstimulasi peserta didik, membuatkan alur (jalan cerita) sehingga keterkaitan materi yang diajarkan lebih mudah dipahami.

2.      Kita dapat merangkum materi yang akan kita ajarkan secara garis besarnya. Caranya dapat melalui mind mapping. Dengan mind mapping peserta didik dapat menagkap butir-butir pokok informasi secara signifikan. Selain itu dengan mind mapping siswa dapat :
§  secara visual relatif lebih jelas urutan dan informasinya
§  membantu kemampuan otak untuk berkonsentrasi
§  membuat sambungan antara ide-ide sehingga mudah untuk dilihat
§  meningkatkan daya ingat menuju Long term memory

3.      Dalam pembelajaran fisika, hanya dengan memanfaatkan minds on saja tidaklah cukup. Dibutuhkan juga praktik kerja, hands on. Akan ada banyak hal yang diperoleh peserta didik melalui praktik kerja ini. Bukan hanya kemampuan kognitif saja yang dikembangkan disini, namun juga ada sikap dan keterampilan motorik. Disini peserta didik dilatih untuk berpikir kritis, kreatif, analitis, terampil, memiliki sikap teliti, jujur, dan lain sebaginya. Melalui hal ini, diharapkan peserta didik mampu mengimplemetasikannya dalam dunia nyata, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu tolak ukur dari keberhasilan belajar yaitu adanya perubahan sikap menuju ke arah positif. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar