Selasa, 06 November 2012

Motivasi Belajar



Menurut Sudirman (1992:73) Motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sanagt dirasakan mendesak. Sedangkan menurut Natawijaya dan Moesa (1992:54) Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif atau motif-motif menjadi tindakan atau perilaku untuk memuaskan atau memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuan.
Menurut Mc. Donald (dalam Sardiman 1992:73-74) motivasi adalah perubahan  energi  dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Pendapat tersebut menunjukkan dalam pengertian motivasi terdapat tiga elemen penting, yaitu motivasi mengawali terjadinya perubahan energi  pada diri setiap individu, motivasi ditandai dengan munculnya feeling, afeksi seseorang, motivasi akan dirangasang karena adanya tujuan.
Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan belajar dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga tujuan dapat tercapai.
Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya.Kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita.Kekuatan mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi.Ada ahli psikologi pendidikan yang menyebut kekuatan mental yang mendorongterjadinya belajar tersebut sebagai motivasi belajar.Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar.Dalam motivasi terkandung adanya pengarahan sikap dan perilaku belajar individu. (Koeswara, 1989:Siagian, 1989 :Schein : Biggs &Teller, 1987).
Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu; (i) kebutuhan, (ii) dorongan , (iii) tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan yang ia harapkan.
Maslow membagi kebutuhan menjadi lima tingkat, yaitu
1.      Kebutuhan fisiologis
2.      Kebutuhan akan perasaan aman
3.      Kebutuhan sosial
4.      Kebutuhan akan penghargaan diri
5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri
Kebutuhan fisiologis berkenaan dengan kebutuhan pokok manusia seperti pangan, sandang, dan perumahan. Kebutuhan akan rasa aman berkenaan dengan keamanan yang bersifat fisik dan psikologis. Sebagai ilustrasi, individu tidak boleh diganggu secara fisik dan biarkan untuk berkreasi. Kebutuhan sosial berkenaan dengan perwujudan berupa diterima oleh orang lain, jati diri yang khas, berkesempatan maju, merasa diikutsertakan maju, dan pemilikan diri. Sebagai ilustrasi, individu diperbolehkan untuk aktualisasi diri berkenaan dengan kebutuhan individu untuk menjadi sesuatu yang sesuai dengan kemampuannya.Sebagai ilustrasi, seorang anak desa boleh menjadi prajurit, berpangkat jenderal, dan menjadi kepala negara, karena dia mampu dan diberi peluang.
Dari segi dorongan, menurut Hull dorongan atau motivasi berkembang untuk kebutuhan organisme.Di samping itu juga merupakan sistem yang memungkinkan organisme dapat dipelihara kelangsungan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan organisme merupakan penyebab munculnya dorongan, dan dorongan akan mengaktifkan tingkah laku mengembalikan keseimbangan fisiologis organisme. Tingkah laku organisme terjadi disebabkan oleh respons dari organisme, kekuatan, dorongan organisme, dan penguatan kedua hal tersebut.Hull memang menekankan dorongan sebagai motivasi penggerak utama perilaku, tetapi kemudian juga tidak sepenuhnya menolak adanya pengaruh faktor-faktor eksternal.Dalam hal ini insentif (hadiah atau hukuman) mempengaruhi intensitas dan kualitas tingkah laku organisme.
Dari segi tujuan, maka tujuan merupakan pemberi arah pada perilaku.Secara psikologis, tujuan merupakan titik akhir “sementara” pencapaian kebutuhan.Jika tujuan tercapai, maka kebutuhan terpenuhi untuk “sementara”.Jika kebutuhan terpenuhi, maka orang menjadi puas dan dorongan mental untuk berbuat “terhenti sementara”
2.2  Fungsi Motivasi Dalam Belajar
            Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil belajar yang baik. Dengan kata lain, bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar akan dapat mencapai prestasi belajar yang baik.
            Bagi siswa, pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1.      Menyadarkan kedudukan siswa pada awal, proses dan hasil akhir.
2.      Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar.
3.      Mengarahkan kegiatan belajar.
4.      Memperbesar semangat belajar.
5.      Menyadarkan tentang adanya kegiatan yang harus dilakukan siswa baik dalam belajar, bekerja, bermain dan beristirahat yang berkesinambungan.

Motivasi belajar juga harus diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pengalaman tentang motivasi belajar pada siswa adalah sebagai berikut :
1.      Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil; membangkitkan, bila siswa tak bersemangat; meningkatkan, bila semangat belajarnya timbul-tenggelam; memelihara, bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini, hadiah, pujian, dorongan atau pemicu semangat dapat digunakan untuk mengobarkan semangat belajar.
2.      Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas beraneka ragam; ada yang acuh tak acuh, ada yang tak memusatkan perhatian, ada yang bermain, disamping yang bersemangat belajar, ada yang berhasil dan tidak berhasil. Dengan beraneka ragamnya motivasi belajar tersebut, maka guru dapat menggunakan bermacam-macam strategi mengajar belajar. 
3.      Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperi sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau pendidik. Peran pedagogis tersebut mungkin saja sesuai dengan perilaku siswa.
4.      Memberi peluang guru untuk “unjuk kerja” rekayasa pedagogis. Tugas guru adalah membuat siswa belajar sampai berhasil. Tantangan profesionalnya justru terletak pada ”mengubah” siswa tidak berminat menjadi semangat belajar. “Mengubah” siswa cerdas yang acuh tak acuh menjadi bersemangat belajar.
2.3 Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
               Motivasi belajar merupakan segi kejiwaan yang mengalami perkembangan sesuai dengan kondisi fisiologis, dan kematangan psikologis. Oleh karena itu ada beberapa unsuryang mempengaruhi motivasi belajar, yaitu:

2.3.1 Cita-cita atau Aspirasi
      Motivasi belajar tampak pada keinginan keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan cita-cita dalam kehidupan.Timbulnya cita-cita diikuti oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa, dan nilai-nilai kehidupan.Timbulnya cita-cita juga diiktuti oleh perkembangan kepribadian.
      Dari segi emansipasi, keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan hadiah atau hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan, dan kemudian kemauan menjadi cita-cita. Keinginan berlangsung sesaatatau dalam waktu yang lama.Kemauan telah disertai dengan perhitungan akal sehat.Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu yang sangat lama, bahkan sepanjang hayat. Cita-cita siswa untuk “menjadi seorang……….” (gambaran ideal) akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar. Misalnya, siswa tersebut akan rajin berolah raga, melatih nafas, berlari, meloncat, disamping tekun berlatih bulu tangkis. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik. Sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan suatu aktualisasi diri (Monks, 1989 : 241-260; Schein, 1991 : 87-110; Singgih Gunarsa,1990 : 183-199).

2.3.2 Kemampuan Siswa
      Keinginan seorang anak perlu diikuti dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya.Keinginan membaca perlu diikuti dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan bunyi huruf-huruf.Kesukaran mengucapkan huruf “r” misalnya, dapat diatasi dengan drill / melatih ucapan “r” yang benar.Latihan berulang kali menyebabkan terbentuknya kemampuan mengucapkan “r”. Dengan didukung kemampuan mengucapkan “r”, atau kemampuan mengucapkan huruf-huruf lain, maka keinginan anak untuk membaca akan terpenuhi. Keberhasilan membaca suatu buku bacaan akan menambah kekayaan pengalaman hidup. Keberhasilan tersebut memuaskan dan menyenangkan hatinya.Secara perlahan-lahan terjadilah kegemaran membaca pada anak yang semula sukar mengucapkan huruf “r” yang benar. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan. (Monks, 1989 : 21; Singgih Gunarsa,1990 : 49).

2.3.3 Kondisi Siswa
Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya, seseorang siswa yang sehat, kenyang, dan gembira akan mudah memusatkan perhatian. Anak yang sakit akan enggan belajar. Anak yang marah-marah akan sukar memusatkan perhatian pada penjelasan pelajaran. Sebaliknya, setelah siswa tersebut dengan senag hati membaca buku-buku pelajaran agar ia memperoleh nilai rapor yang baik, seperti sebelum sakit. Dengan kata lain, kondisi jasmani dan rohnai siswa berpengaruh pada motivasi belajar.

2.3.4  Kondisi Lingkungan Siswa
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan.Sebagai anggota masyarakat maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, ancaman rekan yang nakal, perkelahian antar siswa, akan mengganggu kesungguhan belajar. Sebalikya, kampus dan sekolah yang indah, pergaulan siswa yang rukun, akan memperkuat motivasi belajar. Oleh karena itukondisi lingkungan sekolah yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan perlu dipertinggi mutunya.Dengan lingkungan yang aman, tenteram, tertib, dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.



2.3.5  Unsur-Unsur Dinamis Dalam Belajar dan Pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan.Dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup.Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar.Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam, lingkungan tempat tinggal, dan pergaulan juga mengalami perubahan. Lingkungan budaya siswa yang berupa surat kabar, majalah, radio, televise, dan film semakin menjangkau siswa. Kesemua lingkungan tersebut mendinamiskan motivasi belajar. Dengan melihat tayangan televise tentang pembangunan bidang perikanan di Indonesia Timur misalnya, maka seorang siswa tertari minatnya untuk belajar dan bekerja di bidang perikanan. Pelajar yang masih berkembang jiwa raganya, lingkungan yang semakin bertambah baik berkat dibangun, merupakan kondisi dinamis yang bagus bagi pembelajaran. Guru profesional diharapkan mampu memanfaatkan surat kabar, majalah, siaran radio, televise dan sumber belajar di sekitar sekolah untuk memotivasi belajar.

2.3.6 Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa
            Guru adalah pendidik professional. Ia bergaul setiap hari dengan puluhan atau ratusan siswa. Interaksi efektif pergaulannya sekitar lima jam sehari. Intensitas pergaulan tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa.
            Guru adalah pendidik yang berkembang. Tugas profesionalnya mengharuskan dia belajar sepanjang hayat.Belajar sepanjang hayat tersebut sejalan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar sekolah yang juga dibangun. Guru tidak sendirian dalam belajar sepanjang hayat. Lingkungan sosial guru, lingkungan budaya guru, dan kehidupan guru perlu diperhatikan oleh guru.Sebagai pendidik, guru dapat memilah dan memilih yang baik.Partisipasi dan teladan memilih perilaku yang baik tersebut sudah merupakan upaya membelajarkan siswa.

2.4 Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar
            Guru di sekolah menghadapi banyak siswa dengan bermacam-macam motivasi belajar.Oleh karena itu peran guru cukup banyak untuk meningkatkan belajar.

2.4.1  Optimalisasi Penerapan Prinsip Belajar
            Dalam upaya pembelajaran, guru berhadapan dengan siswa dan bahan belajar. Untuk dapat membelajarkan atau mengajarkan bahan pelajaran disyaratkan
1. Guru telah mempelajari bahan pelajaran,
2. Guru telah memahami bagian-bagian yang mudah, sedang, dan sukar,
3. Guru telah menguasai cara-cara mempelajari bahan, dan
4. Guru telah mempelajari sifat bahan tersebut.
Upaya pembelajaran terkait dengan beberapa prinsip belajar. Beberapa prinsip belajar tersebut antara lain sebagai berikut:
1.   Belajar menjadi bermakna bila siswa memahami tujuan belajar, oleh karena itu, guru perlu menjelaskan tujuan belajar hierarkis.
2. Belajar menjadi bermakna bila siswa dihadapkan pada pemecahan masalah yang menantangnya, oleh karena itu peletakan urutan masalah yang menantang harus disusun guru dengan baik.
3. Belajar menjadi bermakna bila guru mampu memusatkan segala kemampuan mental  siswa dalam program kegiatan tertentu, oleh karena itu, disamping mengajarkan bahan secara terpisah-pisah, guru sebaiknya membuat pembelajaran dalam pengajaran unit.
4. Mengatur bahan dari yang paling sederhana sampai paling menantang.
5. Memberitahukan kriteria keberhasilan atau kegagalan belajar siswa.



2.4.2     Optimalisasi Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran
Seorang siswa akan belajar dengan sutuh pribadinya. Perasaan kemaunan, pikiran, perhatian, fantasi, dan kemampuan yang lain tertuju pada belajar. Meskipun demikian ketertujuan tersebut tidak selamanya berjalan lancer.Ketidaksejajaran tersebut disebabkan oleh kelelahan jasmani atau mentalnya, ataupun naik turunnya energi jiwa.
Guru adalah pendidik dan sekaligis pembimbing belajar. Guru lebih memahami keterbatasan waktu bagi siswa. Seringkali siswa lengah tentang nilai kesempatan belajar.Oleh karena itu guru dapat mengupayakan optimalisasai unsur-unsur dinamis yang ada dalam diri siswa dan yang ada di lingkungan siswa. Upaya optimalisasi tersebut, sebagai berikut:
1.      Pemberian kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan hambatan belajar yang dialaminya.
2.      Memelihara minat, kemauan, dan semangat belajarnya sehingga terwujud tindak belajar, betapa lambat gerak belajar, guru “tetap secara terus-menerus” mendorong; dalam hal ini berlaku semboyan “lambat asal selamat, tak akan lari gunung dikejar”.
3.      Meminta kesempatan pada orangtua siswa atau wali, agar memberi kesempatan pada siswa untuk beraktualisasi diri dalam belajar.
4.      Memanfaatkan unsur-unsur lingkungan yang mendorong belajar, misalnya surat kabar, dan tayangan televisi yang mengganggu pemusatan perhatian belajar agar dicegah.
5.      Menggunakan waktu secara tertib, penguat dan suasana gembiraterpusat pada perilaku belajar; pada tingkat iniguru memberlakukan upaya”belajar merupakan aktualisasi diri siswa”
6.      Guru merangsang siswa dengan penguat memberi rasa percaya diri bahwa ia dapat mengatasi segala hambatan dan “pasti berhasil” sebagai ilustrasi, siswa dibebaskan rasa harga dirinya dengan berbuat sampai berhasil.

2.4.3  Optimalisasi Pemanfaatan Pengalaman dan Kemampuan Siswa
Perilaku belajar siswa merupakan rangkaian tindak-tindak belajar setiap hari. Guru adalah “penggerak” perjalanan belajar bagi siswa. Sebagai penggerak, maka guru perlu memahami dan mencatat kesukaran-kesukaran siswa.Sebagai fasilitator belajar, guru diharapkan memantau “tingkat kesukaran pemahaman belajar”, dan segera membantu mengatasi kesukaran belajar.“Bantuan mengatasi kesukaran belajar” perlu diberikan sebelum siswa putus asa. Guru wajib menggunakan pengalaman belajar dan kemampuan siswa dalam mengelola siswa belajar. Upaya optimalisai pemanfaatan pengalaman siswa tersebut dapat dilakukan sebagai berikut:
1.      Siswa ditugasi membaca bahan belajar sebelumnya; tiap membaca bahan belajar, siswa mencatat hal-hal yang sukar, catatan hal-hal yang sukar tersebut diserahkan kepada guru.
2.      Guru mempelajari hal-hal yang sukar bagi siswa.
3.      Guru memecahkan hal-hal yang sukar, dengan mencari “cara memecahkan”.
4.      Guru mengajarkan “cara memecahkan” dan mendidikan keberanian mengatasi kesukaran.
5.      Guru mengajak serta siswa mengalami dan mengatasi kesukaran.
6.      Guru memberi kesempatan kepada siswa yang mampu memecahkan masalah untuk membantu rekan-rekannya yang mengalami kesulitan
7.      Guru menghargai pengalaman dan kemampuan siswa belajar secara mandiri. (Monks, 1989 : 293-305; Winkel, 1991 : 110-119; Joyce & Well, 1980 : 105-129 dan 147-163).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar