Minggu, 25 November 2012

Pembelajaran Pengetahuan Deklaratif



2.1 Definisi Belajar Pengetahuan Deklaratif
Ahli psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses interaksi yang tinggi dalam membangun makna secara personal dari informasi yang diperoleh dengan pengetahuan yang sudah ada menjadi pengetahuan baru. Menerima pengetahuan melibatkan proses interaksi antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang ingin dipelajari, dan setelah itu mengintegrasikan informasi tersebut menjadi langkah-langkah sederhana yang mudah digunakan. Menurut E.D. Gagne (1985), pengetahuan dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Menurut Hoy, W. K., & Miskel, C. G. (2005), Perspektif kognitif membagi jenis pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu: Pengetahuan Deklaratif, Pengetahuan Prosedural, dan Pengetahuan Kondisional. Banyak ahli yakin bahwa pemerolehan tipe pengetahuan yang berbeda memerlukan proses yang berbeda pula.
Pengetahuan Deklaratif, yaitu pengetahuan yang bisa dideklarasikan biasanya dalam bentuk kata atau singkatnya pengetahuan konseptual. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan “apa sesuatu itu?”, yang merupakan masalah dalam suatu kasus. Sama halnya dengan menginginkan siswa untuk “mengerti” atau “memahami” materi pembelajaran atau konten.
Contoh pengetahuan deklaratif sangat beragam, bisa berupa pengetahuan tentang fakta (misalnya, bumi berputar mengelingi matahari dalam kurun waktu tertentu), generalisasi (setiap benda yang di lempar ke angkasa akan jatuh ke bumi karena adanya gaya gravitasi), pengalaman pribadi (apa yang diajarkan oleh guru sains secara menyenangkan) atau aturan (untuk melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan maka pembilang harus disamakan terlebih dahulu).
Kata-kata yang biasa digunakan untuk materi pembelajaran deklaratif diantaranya adalah menjelaskan, menggambarkan, meringkas, menampilkan daftar. Meskipun pembelajaran dekralatif sering dikesampingkan karena dianggap hanya sebagai pengetahuan yang semata-mata menghafal, tidak menarik dan tidak penting, tapi hal itu merupakan substansi dari sebuah pembelajaran. Pembelajaran deklaratif merupakan bagian yang penting dari apa yang kita pelajari sepanjang hidup kita walaupun pembelajaran ini sering di konotasikan sebagai pembelajaran yang bersifat hafalan. Pembelajaran deklaratif juga memiliki hubungan yang erat dengan pembelajaran yang lain. Pembelajaran deklaratif memaparkan langkah-langkah yang diperlukan untuk melengkapi prosedur dan keterampilan psikomotor sehingga masalah-masalah dapat dipahami dan diselesaikan.
2.2 Pentingnya Belajar Pengetahuan Deklaratif
Meskipun pembelajaran dekralatif sering dikesampingkan karena dianggap hanya sebagai pengetahuan yang semata-mata menghafal, tidak menarik dan tidak penting, tapi hal itu merupakan substansi dari sebuah pembelajaran. Pembelajaran deklaratif merupakan bagian yang penting dari apa yang kita pelajari sepanjang hidup kita walaupun pembelajaran ini sering di konotasikan sebagai pembelajaran yang bersifat hafalan.
Pembelajaran deklaratif juga memiliki hubungan yang erat dengan pembelajaran yang lain. Pembelajaran deklaratif memaparkan langkah-langkah yang diperlukan untuk melengkapi prosedur dan keterampilan psikomotor sehingga masalah-masalah dapat dipahami dan diselesaikan.

2.3 Proses Belajar Pengetahuan Deklaratif
Ada enam langkah-langkah proses perolehan belajar pengetahuan deklaratif, yaitu:
1. Tingkat-tingkat aktifitas dalam jaringan proposisi
Anderson (1983) berpendapat bahwa proposisi mempunyai berbagai tingkatan-tingkatan aktifitas. Pada suatu waktu sebegian besar proposisi itu tidak aktif, sebagian kecil proposisi yang aktif pada waktu-waktiu tertentu adalah bagian yang pada waktu itu kita pikirkan. Proposisi-proposisi itu ialah pengetahuan lama bukan pengetahuan baru.
2. Beberapa Prinsip tentang perolehan pengetahuan deklaratif
Pengetahuan deklaratif baru diperoleh bila suatu proposisi baru disimpan bersama proposisi yang berhubungan dalama jaringan proposisi. Gagasan yang terakhir ini bukan suatu gagasan dari memori jangka panjang atau suatu gagasan yang disajikan oleh stimulus external. Gagasan ini merupakan hasil dari proses berpikir. Bentuk proposisi ini disebut suatu elaborasi, sebab proposisi ini menambahkan imformasi pada imformasi yang masuk. Langkah-langkah dalam perolehan pengetahuan tidak menyediakan kesempatan bagi terjadinya belajar informasi yang sama sekali tidak bermakna. Hal ini disebabkan karena syarat untuk belajar ialah bahwa harus terjadi hubungan anatara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya. Jika semua belajar pengetahuan deklaratif itu bermakna (membutuhkan hubungan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan lama). Bila telah terbentuk lebih dari satu proposisi yang memiliki bersama suatu gagasan, maka mulailah pembentukan jaringan proposisi. Mulai saat ini walaupun sensasi-sensasai dan tindakan-tindakan akan merangsang pemanggilan proposisi, proposisi yang berhubungan akan juga mulai saling merangsang. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa makna harus terkandung dalam hubungan-hubungan antara bagian struktur pengetahuan.
3. Pemanggilan dan kontruksi pengetahuan deklaratif
Suatu proses pemangilan biasanya dimulai bila seseorang bertanya kepada kita atau bila kita membaca suatu pertanyaan. Dapat juga suatu pemanggilan dimulai oleh pertanyaan yang datang dari kita sendiri, misalnya: waktu kita memcah masalah dan membutuhkan informasi yang sudah disimpan sebelumnya. Bila pertanyaan itu dating dari sumber luar pertanyaan itu harus diubah dahulu menjadi prosisi-proposisi yaitu media penyajian internal. Bila hal ini telah dilakukan maka konsep-konsep dalam proposisi akan mengaktifkan bagian-bagian dari jaringan proposisi yang berhubungan dengan konsep-konsep itu.
Aktifasi akan menyebar pada konsep-konsep yang lain sehingga suatu proposisi secara keseluruhan teraktifasi. Proposisi yang telah teraktifasi ini diteliti, untuk melihat apakah proposi ini dapat menjawab pertanyaan yang diajukan. Bila dapat maka proposisi itu diterjemahkan kedalam ucapan atau jawaban tertulis, dan dikeluarkan ke lingkungan. Bila proposisi itu tidak menjawab pertanyaan, dan masih ada waktu untuk mencari jawaban, maka pencarian diteruskan dengan membiarkan aktifasi menyebar hingga proposisi lainnya teraktifasi dan diharapkan dapat memberikan jawaban. Tetapi bila tidak ada waktu lagi untuk pencarian selanjutnya, maka orang yang bersangkutan dapat membuat penerkaan didasarkan pada pengetahuan yang tersedia.
4. Elaborasi pengetahuan deklaratif
Elaborasi ialah proses penambahan pengetahuan yang berhubungan pada informasi yang sedang dipelajari. Elaborasi memperlancar pemanggilan dengan dua cara :
a. Elaborasi menyediakan alternative cara-cara untuk pemanggilan agar aktifasi menyebar.
b. Elaborasi menyediakan informasi tambahan yang dapat berguna untuk mengkontruksi jawaban.
Banyak penelitian telah dilakukan yang mengemukakan nilai proses elaborasi dalam perolehan dan pemanggilan pengetahuan deklaratif.
Elaborasi dapat mengambil beberapa bentuk, sebagian ada yang lebih efektif sebagai perangsangn pemanggilan. Elaborasi yang efektif mengikat menjadi satu bagian-bagian proposisi-proposisi yang ingin di ingat seseorang, dan menstimulasi pemanggilan apa yang dipelajari. Elaborasi yang kurang efektif tidak melakukan hal itu.
Bandsford (dalam Gagne,1985) dan kawan-kawan telah meneliti efek beberapa bentuk elaborasi terhadap menghafalkan kalimat-kalimat. Dalam salah satu penelitian mereka, murid-murid kelas 5 dibagi menjadi tiga kelompok menurut keberhasilan mereka. Kelompok-kelompok ini disebut “berhasil”, “cukup” dan “kurang berhasil”. Semua murid-murid ini diberi satu daftar yang berisi kalimat-kalimat seperti “Orang laki-laki tinggi menggunakan kuas cat” atau Orang yang lapar itu masuk ke Mobil. Pada mereka dikatakan bahwa setiap kalimat tertuju pada orang yang berlainan (misalnya kuat, lapar, dst).
5. Organisasi Pengetahuan Deklaratif
Siswa –siswa yang baik, bila diberi tugas membaca, akan melakukan elaborasi terhadap informasi yang mereka baca. Ini berarti bahwa mereka memikirkan gagasan-gagasan, contoh - contoh, gambaran-gambaran mental, atau perincian-perincian yang berhubungan, mereka juga mengorganisasi informasi baru itu. Organisasi ialah proses pembagian himpunan informasi menjadi sub-sub himpunan dan penentuan hubungan antara sub-sub himpunan itu. Menurut Reitmen dan Rueter (1980) manusia mengorganisasi informasi secara spontan.

Efek organisasi terhadap menghafal
Organisasi sangat menolong pengingatan informasi. Apakah informasi itu berupa daftar berisi kata-kata benda, cerita-cerita, teks pelajaran, data menunjukkan banyak keuntungan dari organisasi. Murid-murid sekolah dasar makin menarik keuntungan dari organisasi untuk meningkatkan ingatan mereka selama sekolah. Untuk meneliti ini biasanya pada para siswa diperlihatkan sejumlah gambar-gambar, benda-benda, lalu mereka diminta untuk mempelajari gambar-gambar itu, kemudian menghafalkannya sebanyak mungkin. Data ini menyarankan anak-anak yang lebih tua menghafalkan lebih banyak karena mereka mengelompokkan lebih banyak. Rupa-rupanya dengan mengorganisasi output respon menjadi kategori –ktegori penghafalan dapat ditingkatkan.

Mekanisme organisasi
Telah terbukti bahwa organisasi meningkatkan kemampuan menghafal, tetapi timbul pertanyaan : Bagaimana organisasi meningkatkan menghafal? Banyak jawaban yang diberikan pada pertanyaan ini, dan penelitian dalam bidang ini masih terus dilakukan. Salah satu kemungkinan ialah bahwa organisasi beroperasi seperti elaborasi-elaborasi tepat. Organisasi menyediakan hubungan –hubungan yang ketat dengan informasi yang kita hafal, sehingga penyebaran aktivasi akan tinggal dalam daerah yang relevan dari memori jangka panjang, dan tidak menjauh.
Kemungkinan yang lain ialah bahwa organisasi dapat menolong memecahkan masalah memori kerja yang berkapasitas kecil itu, kapasitas yang kecil ini menimbulkan masalah-masalah, sebab sesudah memanggil informasi, seseorang telah kehabisan ruang. Manusia dapat menggunakan organisasi secara srtategis untuk mengatasi masalah ini. Bila informasi dibagi menjadi beberapa sub-himpunan, karena sub himpunan lebih kurang jumlahnya dari item-item yang berdiri sendiri, maka dengan demikian seluruh informasi dapat dijejaki tanpa informasi itu benar-benar ada dalam memori kerja. Selain itu organisasi dapat menyediakan suatu sumber perangsang pemanggilan yang dihasilkan secara internal yang membimbing penyebaran aktivasi.
6. Pertolongan Elaborasi dan Organisasi dalam Pengajaran
Elaborasi dan organisasi memperlancar belajar menghafal kedua proses sedapat mungkin ditingkatkan dalam mengajar, karena setiap orang itu berbeda dalam mengadakan elaborasi secara spontan terdapat informasi sehingga banyak yang dapat dilakukan melaui pengajaran atau materi-materi tambahan untuk meningkatkan penggunaan penggunaan proses-proses elaborasi dan organisasi pada para siswa. Jangan menyajikan materi pembelajaran baru dengan cara yang mengurangi kemaknaannya dan organisasi.
Untuk merangsang organisasi guru dapat memberikan suatu daftar yang berisi garis-garis besar pelajaran (suatu outline). Di mana diminta para siswa untuk memberikan contoh konsep baru suatu outline atau menggunakan kata-kata yang merangsang organisasi. Daftar pertanyaan merangsang proses belajar deklaratif yang tergantung pada imajinasi guru atau perencanaan pelajaran. Beberapa kata-kata atau pertanyaan pada permulaan suatu pelajaran yang memperlihatkan pada para siswa bagaimana materi baru terkait pada materi yang telah mereka ketahui, dapat meningkatkan belajar dan menghafal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar